Kali ini pembahasan kita akan sedikit santai, nggak terlalu
fokus dengan tempat wisata. Sekadar celoteh kecil untuk mengenang. Saya akan
membocorkan satu rahasia. Banyak orang yang mengira saya tipe orang yang mudah
bergaul, mendapatkan banyak teman, dan menyukai keramaian. Padahal, kenyataan
sebaliknya, saya adalah tipe orang yang introvert,
tetapi berusaha menikmati hidup dan berdamai dengan lingkungan sekitar. Setelah
hidup di zona aman untuk sekian lama, saya merasa bosan. Akhirnya, sebuah
kesempatan hadir.
Berawal dari nekat, seumur-umur belum pernah mengikuti writing camp. Ini adalah pengalaman
pertama meskipun bukan pertama mengikuti workshop.
Tapi camping? Sedikit khawatir
mengingat belum pernah kopdar atau bertemu satu pun dari peserta, apalagi di
KBM termasuk newbie jadi belum mengenal
banyak orang. Tepatnya, orang-orang tidak mengenal saya :D
Alasan mengikuti Big Writing Camp yang diadakan KBM adalah
:
1.
Sejujurnya
saya kurang piknik L #halah
2.
Kangen
suasana workshop, apalagi camping. Bayangan aku sih tadinya
bakalan ada renungan malam terus nyanyi deh lagu wajib, yang lupa judulnya apa
.. pokoknya liriknya ada kalimat ini, “baru gelap dunia beginilah rasanya ...”
3.
Kopdar
teman-teman KBM membuat antusias, hampir setahun gabung cuma mengenal di dunia
maya. Silaturahmi adalah cara alami untuk memperpanjang umur katanya, insyaallah J Apalagi yang datang ternyata dari
berbagai kota. Aceh, Makasar, Sidoarjo, Depok, Tangerang, Bogor, dll.
Perjalanan Cianjur-Bandung pagi itu mulus tanpa hambatan,
sampai terminal Lw. Panjang sekitar 08.30 tidak jauh dari prediksi. Masih
dengan tampang bego celingak-celinguk kayak orang bingung, beberapa calo malah
menawari ke tempat lain sambil menarik-narik tas. Wuuttsss ... situ calo atau jambret? Aku ‘kan unyu, gimana kalau ada yang nyulik?
Untungnya panitia sigap menelepon dan menunjukkan lokasi. Oia, saya cukup berterima kasih kepada bapak tukang becak telah menunjukkan jalan yang benar. Pelajaran pertama, tidak semua orang asing bahaya, Vroh ... Jejeran toko oleh-oleh khas Bandung hampir saja mengubah arah perjalanan, untung kuat iman dan tipis dompet :D
Hal pertama yang dilakukan adalah mencari sekumpulan orang-orang
dengan tas besar atau ransel. Dan tadda
... lagi jalan gitu, saya menemukan dua sosok dengan tas segede gaban,
tanpa pikir panjang mengikuti langkah mereka. Bodoh, ya? Gimana coba kalau
tersesat? Tapi itulah intuisi, naluri seorang penulis yang bisa membaca
karakter dan bahasa tubuh seseorang #ceilehahay
Lima belas menit sedikit melar dari jadwal karena
beberapa peserta belum datang. Teh Asih, orang pertama yang ngajak kenalan,
bertukar cerita seputar dunia menulis. Dua cowok kece di belakang Kang Hamdy Vn
dan Nurbagus, tidak kalah seru obrolannya. Jadi malu, aku mah apa atuh? Cuma
sekadar penulis status facebook Tiba-tiba perempuan ransel gaban
pengin di foto sambil gelantungan di pintu mobil. Akhirnya tahulah namanya Teh
Linda.
Berangkatlah mini bus yang kami tumpangi. Busyeettt ... ternyata dari terminal
hampir 3 jam, berarti duduk di mobil 6 jam dari Cianjur hayduuhhh ... biasanya
saya tipe orang yang nggak bisa diajak jalan jauh naik bus, kudu siap-siap keresek, tapi niat memang menguatkan langkah, ya.
Cuma ngakalin banyak tidur :P Memasuki daerah Pangalengan sudah terasa hawa
pegunungan, pedesaan, hamparan sawah yang alhamdulillah masih membentang. Mobil
semakin naik, rumah-rumah semakin berkurang di kiri-kanan banyak tanaman sayuran. Jadi ingat
Cipanas-Cibodas, sayuran dan bunga menjadi pemandangan paling menyejukkan,
apalagi hawa dingin menyelingkupi. Bukan maksud membandingkan sih, (sedikit
promo) kalau soal udara dingin kayaknya Cibodas tetep nyess ... mau siang apalagi malam. Kalau Gn. Puntang siang hot, malem cold
Jajaran pohon pinus menjulang, setelah salat zuhur dan
makan siang acara dimulai dengan presentasi buku. Ini nih, salah satu yang
bikin menarik. Bagi anggota KBM yang telah memiliki buku, baik solo maupun
antologi diperbolehkan untuk mempresentasikan bukunya masing-masing. Sayang,
saat itu saya nggak bawa buku apa pun tepatnya memang belum punya karya.
Tamparan keras mendarat di pipi. Selama di KBM apa yang
sudah dilakukan? Karya apa yang sudah kamu sumbangkan ke Frankfurt, Jerman?
Baiklah, belum banyak sih, tapi setidaknya ada beberapa karya
pernah kita torehkan bersama. Saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada
kakak-kakak senior telah berbagi ilmu yang sangat bermanfaat, saling memberi
semangat, oh, bagian ini tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Pokoknya,
sebuah pengalaman dan pembelajaran luar biasa menjadi bagian dari keluarga KBM.
Kepada para panitia yang sukses dengan acara kemarin terima kasih kepada Pak
Isa sebagai mentor, Ketum Pardiman, Teteh Ingeu, Teh Desi, Teh Hafidah, Kak Ayu,
Teh Risma, dll.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar