Senin, 28 Mei 2018

Big Writing Camp Gunung Puntang




Kali ini pembahasan kita akan sedikit santai, nggak terlalu fokus dengan tempat wisata. Sekadar celoteh kecil untuk mengenang. Saya akan membocorkan satu rahasia. Banyak orang yang mengira saya tipe orang yang mudah bergaul, mendapatkan banyak teman, dan menyukai keramaian. Padahal, kenyataan sebaliknya, saya adalah tipe orang yang introvert, tetapi berusaha menikmati hidup dan berdamai dengan lingkungan sekitar. Setelah hidup di zona aman untuk sekian lama, saya merasa bosan. Akhirnya, sebuah kesempatan hadir.

Berawal dari nekat, seumur-umur belum pernah mengikuti writing camp. Ini adalah pengalaman pertama meskipun bukan pertama mengikuti workshop. Tapi camping? Sedikit khawatir mengingat belum pernah kopdar atau bertemu satu pun dari peserta, apalagi di KBM termasuk newbie jadi belum mengenal banyak orang. Tepatnya, orang-orang tidak mengenal saya :D




Alasan mengikuti Big Writing Camp yang diadakan KBM adalah :

1.       Sejujurnya saya kurang piknik L #halah
2.       Kangen suasana workshop, apalagi camping. Bayangan aku sih tadinya bakalan ada renungan malam terus nyanyi deh lagu wajib, yang lupa judulnya apa .. pokoknya liriknya ada kalimat ini, “baru gelap dunia beginilah rasanya ...”
3.       Kopdar teman-teman KBM membuat antusias, hampir setahun gabung cuma mengenal di dunia maya. Silaturahmi adalah cara alami untuk memperpanjang umur katanya, insyaallah J Apalagi yang datang ternyata dari berbagai kota. Aceh, Makasar, Sidoarjo, Depok, Tangerang, Bogor, dll.

Perjalanan Cianjur-Bandung pagi itu mulus tanpa hambatan, sampai terminal Lw. Panjang sekitar 08.30 tidak jauh dari prediksi. Masih dengan tampang bego celingak-celinguk kayak orang bingung, beberapa calo malah menawari ke tempat lain sambil menarik-narik tas. Wuuttsss ... situ calo atau jambret? Aku kan unyu, gimana kalau ada yang nyulik?

Untungnya panitia sigap menelepon dan menunjukkan lokasi. Oia, saya cukup berterima kasih kepada bapak tukang becak telah menunjukkan jalan yang benar. Pelajaran pertama, tidak semua orang asing bahaya, Vroh ...
Jejeran toko oleh-oleh khas Bandung hampir saja mengubah arah perjalanan, untung kuat iman dan tipis dompet :D

Hal pertama yang dilakukan adalah mencari sekumpulan orang-orang dengan tas besar atau ransel. Dan tadda ... lagi jalan gitu, saya menemukan dua sosok dengan tas segede gaban, tanpa pikir panjang mengikuti langkah mereka. Bodoh, ya? Gimana coba kalau tersesat? Tapi itulah intuisi, naluri seorang penulis yang bisa membaca karakter dan bahasa tubuh seseorang #ceilehahay

Lima belas menit sedikit melar dari jadwal karena beberapa peserta belum datang. Teh Asih, orang pertama yang ngajak kenalan, bertukar cerita seputar dunia menulis. Dua cowok kece di belakang Kang Hamdy Vn dan Nurbagus, tidak kalah seru obrolannya. Jadi malu, aku mah apa atuh? Cuma sekadar penulis status facebook  Tiba-tiba perempuan ransel gaban pengin di foto sambil gelantungan di pintu mobil. Akhirnya tahulah namanya Teh Linda.

Berangkatlah mini bus yang kami tumpangi. Busyeettt ... ternyata dari terminal hampir 3 jam, berarti duduk di mobil 6 jam dari Cianjur hayduuhhh ... biasanya saya tipe orang yang nggak bisa diajak jalan jauh naik bus, kudu siap-siap keresek, tapi niat memang menguatkan langkah, ya. Cuma ngakalin banyak tidur :P Memasuki daerah Pangalengan sudah terasa hawa pegunungan, pedesaan, hamparan sawah yang alhamdulillah masih membentang. Mobil semakin naik, rumah-rumah semakin berkurang di kiri-kanan banyak tanaman sayuran. Jadi ingat Cipanas-Cibodas, sayuran dan bunga menjadi pemandangan paling menyejukkan, apalagi hawa dingin menyelingkupi. Bukan maksud membandingkan sih, (sedikit promo) kalau soal udara dingin kayaknya Cibodas tetep nyess ... mau siang apalagi malam. Kalau Gn. Puntang siang hot, malem cold

 

Jajaran pohon pinus menjulang, setelah salat zuhur dan makan siang acara dimulai dengan presentasi buku. Ini nih, salah satu yang bikin menarik. Bagi anggota KBM yang telah memiliki buku, baik solo maupun antologi diperbolehkan untuk mempresentasikan bukunya masing-masing. Sayang, saat itu saya nggak bawa buku apa pun  tepatnya memang belum punya karya.
Tamparan keras mendarat di pipi. Selama di KBM apa yang sudah dilakukan? Karya apa yang sudah kamu sumbangkan ke Frankfurt, Jerman? 



Baiklah, belum banyak sih, tapi setidaknya ada beberapa karya pernah kita torehkan bersama. Saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada kakak-kakak senior telah berbagi ilmu yang sangat bermanfaat, saling memberi semangat, oh, bagian ini tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Pokoknya, sebuah pengalaman dan pembelajaran luar biasa menjadi bagian dari keluarga KBM. Kepada para panitia yang sukses dengan acara kemarin terima kasih kepada Pak Isa sebagai mentor, Ketum Pardiman, Teteh Ingeu, Teh Desi, Teh Hafidah, Kak Ayu, Teh Risma, dll.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar